Selasa, 11 September 2012

Satu Cahaya Lagi Pergi: Memoar Teuku Iskandar


Mehmet Ozay                                                                                                                        09.09.2012

Saya tidak ingat dimana saya melihat namanya pertama kali. Namun pastinya dari salah satu tulisannya di perpustakaan Ali Hasjmy yang saya kunjungi pada tahun 2005. Baru kemudian saya selalu mendapati namanya dalam berbagai buku-buku penting. TEUKU ISKANDAR. Dia memainkan perannya dengan mengunjungi dan menemukan kembali sejarah Aceh melalui karya-karyanya yang membumi. Saya tidak begitu tahu mengapa namanya selalumangingatkan saya dengan sosok agung lainnya, Iskandar Muda. Mungkin secara implisit saya mengira bahwa hasil-hasil tulisannya mencerminkan keagungan seorang Sultan Iskandar Muda.

Nama Teuku Iskandar sudah selalu mengelilingi academia. Wajar jika dia mendapat pengakuan sebagai salah satu pemikir terakhir tidak hanya bagi orang Aceh tapi juga bagi dunia intelektual Melayu. Dia berada dalam generasiyang menyaksikan peristiwa-peristiwa agung Aceh dimulai dari tahun tahun terakhir penjajahan Belanda, pergerakan kemerdekaan, pembentukan indonesia modern, dan Peristiwa-peristiwa Darul Islam. Jika kita ingin membandingkan akademik karirnya, barangkali saya bisa menyebutkan bahwa dia berada sejajar dengan Prof. Dr. Syed Naquib al-Attas di Malaysia.

Meskipun tidak hidup di Aceh, dia telah mengkontribusikan kegiatan-kegiatan akademiknya terhadap peradaban dan sejarah Aceh. Beberapa karya hebatnya, Hikayat Aceh, Bustanussalatin, adalah sumber pribumi terkenal yang menarik perhatian pihak-pihak terkait diseluruh dunia. Sebagai tambahan, dia juga mengkompilasikan sumber sumber otentik Melayu dalam katalog seperti, Katalog Manuskrip Melayu, Minangkabau, dan Sumatra Selatan. (1999, Leiden). Ini merupakan pekerjaan yang menggunakan waktu lama dan menantang yang telah ia lakukan selama dekade dekade awal ketika belum ada seorang pun yang meminati sejarah Aceh. Satu isu paramon lainnya adalah ia juga mempenakan disertasi PhDnya dalam bahasa Belanda ”De Hikayat Aceh” (1959, Leiden).

Karyanya telah diterbitkan dalam berbagai jurnal- jurnal penting dan rumah publikasi seperti Journal of Malayan Branch of Royal Asiatic Society (JMBRAS), Dewan Bahasa dan Pustaka (Kuala Lumpur), dan lain-lain. 

Pertama kali saya berjumpa dengan beliau saat Konferensi ICAIOS yang sedang mempresentasikan kertasnya berjudul “Aceh as a Muslim-Malay Cultural Centre (14th – 19th Century)” dalam sebuah panel. Setelah itu saya mencoba menjangkau beliau untuk sebuah interview. Dia menerima tawaran saya dengan rendah hati dengan mengundang saya ke rumah salah satu kerabatnya di Darussalam pda sebuah siang. Kita duduk di serambi untuk beberapa jam. Pembicaraan mengenai Aceh menjadi isu yang begitu menyentuh. Bagaiamanapun, hingga hari ini saya belum berkesempatan untuk mempublikasikan interview tersebut. Kaset tersebut masih tersimpan dengan baik di Aceh. 

Sebelum berbicara tentang interview ini saya ingin mengutarakan tentang penampilannya selama konferensi. Dia diundang dari Netherland dan selama sesinya, ia berbicara untuk lima belas menit sebagaimana aturan biasanya. Meskipun begitu, yang saya temukan adalah kenyataan bahwa ia begitu bersemangat untuk mendiseminasikan pengetahuan dan pemahaman sejarah Aceh kepada audiensinya yang kebanyakan adalah orang Aceh. Tampaknya ia sudah lama merindukan pendengar-pendengar Aceh yang telah kehilangan kontak dengannya dalam waktu lama. Dia memegang segenggam kertas-kertas yang penuh dengan tulisan dan mencoba untuk tidak melewatkan satu poin penting, dan membaca dengan penuh semangat. Dia tidak hanya membaca dan membincangkan sejarah, tetapi dia muncul dengan menghidupkan kembali peristiwa-peristiwa masa lalu dalam gedung konferensi. Akan tetapi, uraiannya dipotong oleh ketua panel dengan tidak bijak. Dia sepatutnya diberikan kesempatan untuk berbicara dengan bertatap muka dengan orang Aceh generasi muda dalam bahasa Aceh dan mencerahkan mereka dengan pengetahuannya. Bagaimanapun, tidak ada kesempatan itu. Kasihan! 

Sekarang, ia sudah tiada. “Inna lillah wa inna ilayhi raciun”. Mudah-mudahan Allah memberkatinya. Saya berharap dia akan dikenang oleh generas-generasi muda Aceh sebagai salah satu intelktual sejarah Aceh yang mengagumkan. Hidupnya dan karya-karyanya perlu dipelajari dengan baik sebagai sebuah tanggung jawab dan karyanya patut dimasukkan sebagai kursus materi dalam berbagai departemen bersangkutan di pendidikan tinggi. Dan karya-karyanya dengan versi yang disederhanakan dipelajari dalam sekolah-sekolah menengah. Jika Aceh ingin memiliki materi sekolah yang independen, bukankah sangat bermanfaat untuk dimulai dari karya-karya original orang Aceh sendiri?. Ini tidak hanya akan membawa Aceh pada sebuah image berbeda, tapi juga mengiring kelanjutan komunikasi ureung tuha kepada generasai muda. 


Senin, 10 September 2012

Pemimpin Baru Aceh Diharapkan Membasmi Korupsi

Thayeb Sulaiman                                                                                                                   11.09.2012

Pemerintah Aceh periode baru diminta dapat mengatasi dan mengontrol dengan kuat bagian sistem yang berpeluang pada korupsi. Dalam pemerintahan  Aceh.

Demikian kata Pendiri Pusat Kebudayaan Aceh- Turki (PuKAT) Dr. Mehmet Ozay melalui surat elektroniknya dari Johor Bahru, Malaysia, Selasa (29/5/2012). Kata Mehmet, periode baru sekarang sebaiknya menyiapkan diri membentuk sebuah institusi yang menyertakan orang-orang yang berperinsip dan bermoral tinggi dari masyarakat, perusahaan Aceh, perusahaan luar negeri dan NGO internasional untuk membasmi korupsi.

“Setelah dilantik nantinya, dr. Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf, harus mampu mengatasi korupsi di Aceh baik secara umum atau secara implisit juga termasuk faktor dari luar. Dari kini, persiapan untuk itu harus dimulai,” kata Mehmet.

Menurutnya, seperti yang diketahui dalam semua negara jajahan, kebiasaan dan etika masyarakat pribumi berubah seiring dengan jalannya kebijakan pada masa penjajahan, dampaknya masih dirasakan masyarakat tersebut.

Tapi, menurut Mehmet, orang tahu bahwa Aceh tidak pernah sepenuhnya berada dalam penjajahan Belanda. Meskipun begitu, kata Mehmet, setelah merdeka etik kolonialisme diimpor ke Aceh melalui berbagai jalan seperti tekanan tekanan militer selama konflik Aceh selama 30 tahun.

“Refleksi korupsi yang signifikan bisa diindikasikan dalam kebiasaan-kebiasaan pegawai negeri baik dari mereka yang kebanyaknnya datang dari luar Aceh atau dari Aceh sendiri yang mengejar posisi penting dan sudah terbiasa dengan sistem tetap dari luar atau secara sadar menganut sistem tersebut,” kata Mehmet yang juga peneliti independen tentang sejarah Aceh.

Menurutnya, setelah tsunami ketika proses rehabilitasi, ada sumber yang menyebutkan bahwa ada NGO-NGO international yang terlibat korupsi. Salah satu di antaranya adalah yang ia saksikan sendiri.

“Saya sudah berbagi data tersebut dengan beberapa pihak, salah satunya adalah GeRAK. Mereka teryakini untuk bereaksi. Nonetheless, NGO tersebut adalah NGO internasional, GeRAK menginformasikan Departemen Luar Negeri di Jakarta, tapi sebagaimana yang sudah diduga, mereka tidak menanggapi sesuai dengan diharapkan,” kata Mehmet.

Kata Mehmet, saat itu, pihak berwenang dari NGO tersebut datang ke Aceh untuk membersihkan situasi keruh yang dibuat oleh staf mereka dengan berbicara dengan poltabes, polda, GeRAK dan juga departmen luar negeri.

“Saya percaya bahwa mereka juga menyuap dan mengancam secara tidak langsung pekerja pekerja di institusi tersebut demi bisa menyelamatkan institusi mereka yang sudah lama terkenal,” kata Mehmet.
Mehmet mengaku telah lama menulis artikel di media Turki. Beberapa kalangan, menurutnya, dapat dengan mudah menangkap apa yang ia maksud melalui tulisan-tulisan tersebut. Ditambah lagi, kata Mehmet, baru-baru ini ada orang yang diberitakan sudah terlibat korupsi baik secara langsung ataupun tidak.

“Khususnya negara-negara berkembang atau sedang berkembang memberikan perhatian lebih terhadap isu korupsi. Mereka mengerti kalau mereka tidak mengatasi ‘tikus-tikus’ tersebut, sistem ekonomi dan sosial tidak akan berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan.

“Maka, kita harap, kepemimpinan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf dapat efektif menyelesaikan masalah korupsi dengan benar dan bertanggung jawab, tentu, itu harus dengan persiapan matang, selektif dan hati-hati,” kata Mehmet.

http://www.acehindependent.com/blog/2012/05/29/pemimpin-baru-aceh-diharapkan-membasmi-korupsi/

Minggu, 09 September 2012

Teuku Iskandar Vefat Etti


Mehmet Özay                                                                                                              8 Eylül 2012

Adını 2005 yılında dadandığım Ali Haşimi Kütüphanesi’ndeki eserlerde rastlamıştım. Ardından, 2007 yılında ilki gerçekleştirilen Açe-Hint Okyanusu Çalışmaları Konferansı’nda (ICAIOS) tanışma ve görüşme fırsatı bulmuştum. Adı Teuku Iskender...

Nedendir bilmem, bu adı her duyuşumda aklıma Sultan İskender Muda gelir... Belki de, Prof. Dr. Teuku İskender’in 87 yıllık yaşama sığdırdığı pek çok çalışmasıyla Açe tarihini yeniden gün yüzüne çıkaran ‘has’ bir Açe’li olmasıyla, döneminin Güneydoğu Asya’sında en şaşaalı devlete sultanlık yapan İskender Muda’nın büyüklüğüne anımsatıyordu bana.

Teuku İskender adı her daim akademyanın gündeminde olmuş bir isimdir. Bu anlamda, son dönem Açe entellektüel ve akademisyenlerinden biri olmaklığı onu ön plâna çıkarır. Aslında çalışmalarının çapına bakıldığında, sadece Açe’li değil, Malay dünyasının son dönem yetiştirdiği önemli bir isim. Bu çerçevede kendisini Prof. Syed Naquib Al-Attas ile kıyaslarsam herhalde hata etmiş olmam.

Teuku İskender, Açe’nin son yüzyılına sığan pek çon önemli gelişmeye tanıklık etmiş bir isim aynı zamanda. Hollanda sömürgeciliği, Japon İşgali, Bağımsızlık yolunda verilen mücadele, modern Endonezya Cumhuriyeti’nin kuruluşu, Endonezya İslam Hareketi vb. Hayatının önemli bir bölümünü Açe dışında geçirse de, Açe’yle bağını koparmamış bir şahsiyet. Leiden’da Doktorasını tamamladıktan sonra, Açe’de Şah Kuala Üniversitesi’nin kuruluşu için 1950’li yılların sonlarında kısa süreliğine Açe’ye dönmüş ve bu anlamda Açe’nin yüksek öğrenim yaşamının yeşermesinde doğrudan müdahelesi olmuş bir bilim adamı.

Açe tarihinin önemli tarihi izlerinin bulunduğu bir şehir olan Leiden’da yaşaması, onu Açe’den uzaklaştırmamış, aksine Açe’yi çok daha derinden yaşamasına yol açmıştır. Leiden ki, Açe’ye “kan gütmüş” bir şehirdir kimilerinin nezdimde. Teuku İskender, Açe’nin kimliğini çalan Leiden’da yaşayarak, Leiden Üniversitesi’nde Profesör olarak görev yaptığı dönemde gerçekleştirdiği çalışmalarıyla bu kimliği yeniden Açe’ye kazandırma konusunda önemli bir işlev görmüştür kanaatimce. Bu işlevinin açılımı eserlerinde karşımıza çıkar. Nedir bu eserler diye soracak olursak, “Hikayat Aceh”, “Bustanu’s Salatin” (Dewan Bahasa Dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1966) en başta gelir. Teuku İskender, Doktora çalışmasını Hikayat Aceh üzerine yapmış ve tezini de Felemenkçe kaleme almıştır: “De Hikayat Atjeh” (1959, Leiden). Bu çalışma Endonezyaca olarak da yayınlanmıştır. Bkz. Teuku Iskandar, Hikayat Aceh: Kisah Kepahlawanan Sultan Iskandar Muda, Çev.: Abu Bakar, Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Museum Daerah Istimewa Aceh, 1978. Önemli bir çabayı gerektiren bu çalışmalar, pek de kimsenin ilgi göstermediği görece erken dönemdeki çalışmalar olmasıyla da dikkat çeker.

Öte yandan, Bu eserler sadece Açe’nin değil, Malay dünyasının tabiri caizse olmazsa olmazlarıdır. Bugün her kim Malay dünyasının tarih ve medeniyetinden bahsediyorsa, bu eserlere atıf yapmadan geçmez, daha doğrusu geçemez. Bu otantik eserlere ilave olarak Malay medeniyetinin atardamarı rolündeki üç bölgeye ait el yazmalarını topladığı katalog çalışması önem taşır: “Catalogue of Malay, Minangkabau and South Sumatran Manuscripts” (1999, Leiden). Kitapları, makaleleri, Journal of Malayan Branch of Royal Asiatic Society (JMBRAS), Dewan Bahasa dan Pustaka (Kuala Lumpur) gibi önemli dergi ve yayınevlerinde yer bulmuştur.

Yukarıda Teuku İskender adına nerede rastladığıma değinmiş, yüzyüze görüşme olanağını da 2007 yılındaki Açe’deki Konferansı’nda olduğunu belirtmiştim. Teuku İskender söz konusu bu konferansta, “Aceh as a Muslim-Malay Cultural Centre (14th – 19th Century)” başlıklı makalesini sunmuştu. Uzunca olan bu makalesini neredeyse satır satır okuma “iştahı” karşısında şaşkınlığımı o günkü gibi hatırlıyorum. Haddi zatında, elindeki kağıt tomarını okumuyor, sanki orada yazılanları bizatihi yaşıyormuşcasına bir halet-i ruhiye içerisindeydi. Öyle ki, Teuku, sahip olduğu bilgiyi salonu dolduran çoğunluğu Açe’li dinleyicilere aktarma şevkiyle dolu olmasına rağmen, bu tip konferansların rasyonel yönetiminden payını almış, oturumu yöneten Batılı akademisyen biraz da edepsizce “kısa kesmesi için” kendisini uyarmıştı. Şimdi o günlere dönüp baktığımda, Açe üniversiteleri, kütüphaneleri, Eyalet yönetiminin ilgili birimlerinin bu kiymetli bilimadamını hakkınca ağırlayamadıklarını düşünüyorum. Yıllar sonra Açe’ye gelmiş böyle bir değeri, baş tacı etmek varken, bu fırsat kaçırılmıştı. Ancak ben bu fırsatı kaçırma niyetinde değildim. O günlerde, kendisiyle görüşme talebimi kabul etmiş, Darusselam’da Şah Kuala Üniversitesi kampüsünde aile efradına ait eve davet etmişti. Bir öğle sonrası gerçekleşen bu mülakatı geniş bahçeli evin “verandah”sında gerçekleştirmiştik. Birkaç saat süren bu güzel sohbeti bugüne kadar yayınlama fırsatı bulamadım.

Ve Teuku İskender 5 Eylül 2012 Çarşamba günü Leiden’da Hakk’ın Rahmetine kavuştu..  “Inna lillahi wa inna ilayhi rajiun”... Makamı cennet olsun...

Şimdi sıra Açeli yeni nesil tarihçi ve entellektüellerinde. Sorumlulukları az değil... Teuku İskender’in açtığı yolda ilerlemek zorundalar. Teuku İskender’in çalışmalarını teker teker ele alıp yeni çalışmalara imza atmalılar. Umarım bu bilinç en azından bir kısım Açeli dostta hasıl olur. Öte yandan, üniversite yönetimlerine de büyük görev düşüyor. Teuku İskender’in eserlerini yeniden basmalı, ilgili fakültelerde ders kitabı olarak okutmalılar. Açe Milli Eğitim Müdürlüğü bu eserleri basitleştirerek ortakoul ve liselerde müfredatta zorunlu kılmalılar. Bunlar yapılmalı ki, Teuku İskender ve kaleme aldığı gerçekler unutulmasın.

http://www.dunyabizim.com/Manset/10884/ace-tarihini-yeniden-gun-yuzune-cikarmisti.html

Rabu, 05 September 2012

55. Yılında Malezya


Mehmet Özay                                                                                                            1 Eylül 2012

Malezya, 31 Ağustos’da bağımsızlığının 55. yılını kutladı. Kuruluşundan bu yana aradan geçen görece kısa döneme rağmen, Malezya’nın dünya devletler topluluğu içerisinde özellikle son otuz yılına hayretle karışık olumlu bir imajla damgasını vurduğunu söyleyebiliriz. Türkiye’de Malezya dendiğinde akla Dr. Mahathir Muhammed gelse de, ülkenin kurucu unsurlarının gerek bağımsızlık öncesi ve sonrasındaki birkaç on yıldaki katkıları göz ardı edilemez. Bugün Malezya denilen bir ülkeden bahsediyorsak eğer, bunun hangi süreçlerden ve hangi aktörlerin katkıları ile oluştuğuna dikkat çekmek gerekir. Sömürge döneminde İngilizlerin özel önem verdikleri saray ve çevresine mensup Tunku Abdul Rahman’ın başbakanlığından başlayarak, Tun Razak, Tun Hüseyin Onn gibi isimleri hatırlamak gerekir.

Aradan geçen yarım yüzyılı aşkın süreye rağmen, Malezya’nın halen ulus-devletleşme sürecinin sıkıntılarını atlatabildiğini ileri sürmek güç. Bunun anlaşılabilir nedenleri olmakla birlikte, bu sürecin Malezya’ya neler kazandırdığı kadar neler kaybettirdiğini de düşünmek gerekir. Önce ulus-devlet sürecine nasıl gelindiğine kısaca göz atalım. Malezya’nın neye tekabül ettiğini görmek için, Güneydoğu Asya’nın tarihsel derinliğinde yer almış geniş Malay topluluğu ve bu topluluğun Malaka ardından Johor-Riau Sultanlığı ile somutlaşmış olduğunu  unutmamak gerekir. Bununla birlikte, bu iki sultanlığın üzerinde yükseldiği coğrafyanın önemine binaen Batı’nın yayılmacı politikalarından azade olduğunu düşünmek saflık olur. Bu noktada tarihin ilgili dönemleri itibarıyla Güneydoğu Asya özelinde ne tür siyasi hatların oluştuğu veya oluşturulamadığı önem taşır. Bu durumda ortaya çıkan arızadır ki, bugün modern dönemde Malezya’nın halen ulus-devletleşme sorunu ile yüzleşmeye devam ettiğini söyleyebiliyoruz. Bir yanda teritoryal kırılmaya eşlikte kültürel dokusu itibarıyla geniş Malay dünyasından kopmuşluğun yarattığı gerilimle kendi asli köklerine bağlılık; öte yandan toplumsal dinamikleri itibarıyle farklı etnisitelere -ki bunlar Çin ve Hint gibi köklü medeniyetlerin uzantısı ve bu köklü uzantıdan “asla vazgeçme niyetinde olmayan” insan unsurlarıdır- ev sahipliği yapması Malezya’yı iç sorunları üzerine konuşlanmaya zorluyor. Malezya elitinin bu gerilimin yaratıcısı olduğu düşünülebilecek dışsal aktörlerin ne kadar uydusu olup olmadığı bir yana, gözlerdan kaçmayan gerçek Malezya’nın aradan geçen elli yıllık sürede yukarıda zikredilen ayrışmaların odağında olduğudur.

Elbette bugün Malezya dendiğinde akla gelen ekonomisinin görece sağlıklı bir rotada ilerleyişidir. Bu rota, aynı zamanda, yukarıda değindiğimiz ulus-devletleşmenin ana paradigması olmasıyla da önem taşır. Yani, ulus-devleti aynı tarihsel köklere yaslanan, benzer ülkü ve idelleri paylaşan bir toplum yapısı üzerinde inşa edilmesi şeklinde anlarsak, bunun Malezya için sorunlu bir inşa süreci olduğu da kendiliğinden ortaya çıkar. O halde, “Bu modern yapılanmanın dayanağı ne olacaktır?” sorusunun cevabı, her ne kadar eşitlikli paylaşıma konu olması bugüne kadar halledilebilmiş değilse de, ekonomik kalkınmaya endekslendiği şeklinde olacaktır.
Bu nedenledir ki, 13 Mayıs 1969 tarihinde başlayan kısa süreli kanlı etnik çatışmaların ülke modern tarihine damgasını vurmasının ardından yeniden yapılandırılan devlet politikaları, toplumda her etnik unsurun ekonomik davranışını her şeyin üstünde bir değer olarak kabul etmiş ve diğer toplumsal dinamikler ekonomik alana sıkıştırılmıştır. Bu süreçte Müslüman Malaylara biçilen rol büyük bir sosyal evrime konu olduğuna kuşku yok. Yani, amacın bir Malay entelijansiyası veya orta sınıfı oluşturmak değil, aksine, “okur yazarlıkla sınırlı ve bu anlamda babalarından daha nitelikli çiftçi ve balıkçı toplumu” (Khasnor Johan 1996: 29) oluşturmaya matuf sömürge döneminde İngilizler eliyle açılan eğitim kurumlarından, bağımsızlık sonrasında Çinli ve Hintli unsurlarla yarışabilecek şehirli, orta sınıf, ekonomik anlamda üretken ve de ‘tüketken’ bir Malay toplumun inşası olmuştur. Bu kavramların zihinlerimizde uyandırdığı yegâne husus ise, bir kapitalist evrim süreciyle yakînen ilintili olduğudur.

Yukarıda zikrettiğimiz 1969 hadisesidir ki, bugün ulusal birlik ve bütünlükten bahsedilmesinin vazgeçilmez kırılma noktasını oluşturmaktadır. Bu sürecin tüm seanslarını burada ele almak mümkün değil. Ancak unutulmaması gereken, 1957-1969 arasında neler olup bittiği kadar, 1970’den bugüne ulaşan sürecin olmazsa olmazlarının neleri kapsadığıdır. Öyle ki, 1970 yılında devletin yeniden reorganizasyonunda Malezya’nın bir devlet olarak yeniden doğuşuna işaret edecek önemli icraatlara kapı aralayacak gelişmeler yaşanmıştır.

Başbakan Necib’in 55. Yıldönümü vesilesiyle yaptığı konuşmada “Bir zamanlar sömürgeleştirilmiş bir ulusun özgürlük ve barışa ulaşmasında başarılı olunmuştur” ifadesi elbette önemli. Ancak, tarihsel gelişmeler ve bugünkü bölgesel ve küresel ilişkiler bağlamında baktığımızda Malezya’nın hangi rolleri üstlendiği veya üstlenemediği de üzerinde durulması bir konu. Yazının ilgili bölümlerinde ifade ettiğimiz üzere, ulus-devletleşme sürecini henüz tamamlayamamış ve tüm enerjisini bu alana kanalize etmiş bir devletin bölgesel ve küresel aktörlük üstlenmesinin mümkünatı var mıdır? Kimi gözlemcilerin ileri sürdüğü üzere, ekonomi alanına sıkıştırılmış veya indirgenmiş ulus-devlet olgusu, öyle anlaşılıyor ki, bir Malay kültür ve medeniyetinin ortaya konulmasının önünde bir engel kabul edilmektedir. Özellikle giderek önem kazanan Güneydoğu Asya coğrafyası ve ASEAN, bu bölgenin Budist çoğunluğu içerisinde varlık sürme mücadelesi veren Müslüman azınlıklar sorunu, Ortadoğu ve Doğu Asya ile ilişkiler vb. konularda Malezya’nın oynayabileceği rollerin boyutu, iç-siyasette kaybedilen kan kaybıyla  düşük yoğunluk göstermektedir. Bu alanda, güç sergileme işinin halen Dr. Mahathir ile sınırlı kalması, Malay entellüktealitesinin de ne tür sıkıntılara maruz kaldığını sergilemesi açısından ilginç bir durum sergiler. Bu durumu, Türkiye’de özellikle son dönemde giderek daha sahneye çıkmaya başlayan Malezya’nın tanınırlılığının ise Dr. Mahathir ile sınırlı oluşunda gözlemlenmektedir.  

http://www.dunyabulteni.net/?aType=haber&ArticleID=224843

Senin, 03 September 2012

Açe’nin Hatırlanışının 50. Yıldönümü Vesilesiyle Bir Kritik


Mehmet Özay                                                                                                                                                                        2 Eylül 2012

“Açe’nin Türk yurdunda hatırlanışı ne zamana dayanır?” diye bir soru aklımıza geldiğinde, herhalde 26 Aralık 2004 diyecektir kahir ekseriyet. Ramazan Bayramı vesilesiyle Açe’de bulunduğum bugünlerde İstanbul’daki arşivden topladığım evrakları karıştırırken, Ayhan Nalbandoğlu’nun kısa ancak önemli metnini bir kez daha ele alma fırsatı buldum. Baktım bu makalenin yayınlanmasından bugüne tamı tamına elli yıl geçmiş.

Nalbandoğlu’nun 1951 yılı Mayıs ayında kaleme aldığı ve “Sumatra ve Cava’da Türk Topları” başlığını taşıyan makalesi Ülkü Kitap Yurdu tarafından yayımlanan Tarih Hazinesi Dergisi’nin onuncu sayısında çıkmış. Bu derginin iki cilt halinde biraraya getirilen nüshalarına, 2006 yılı başlarında, Sultanahmet’teki Başbakanlık Osmanlı Arşivleri’nin giriş katındaki Cumhuriyet döneminde Latin alfabesiyle yayınlanan kimi eserlerin yer verildiği bölümde bulmuştum. Söz konusu derginin, ulaşabildiğim bu iki cildinin dışında başka sayıları olup olmadığını şimdilik bilmiyorum. Adını maalesef hatırlayamadığım bu bölümden sorumlu beyin de yardımıyla Tarih Hazine’sinin nüshalarına ulaşmış ve ilgili sayfalarını fotokopi almıştım. Bu vesile ile, o sıralar ziyaretlerim sırasında yardımını esirgemeyen bu bey’e gıyabında teşekkür etmek isterim.

Nalbandoğlu’nun söz konusu iki sayfalık bu makalesine yeniden göz atarken, ilk okumalarımda epeyce cümlenin altını çizdiğimizi fark etmekle birlikte, aradan geçen süreçte elimin değdiği Endonezyaca ve İngilizce metinlerden edindiğim bilgilerle ister istemez bir kıyaslama yapma durumunda kaldım. Elbette bu kritik yaklaşım, Nalbandoğlu’nun elli yıl önce kaleme aldığı metnin öneminden bir şey kaybettirmeyecektir. Ancak, modern Türkiye şartlarında Açe’nin yeniden hatırlanışında nasıl bir yaklaşım sergilendiğini, bunun ne kadarının tarihi gerçekliklerle örtüştüğü, ne kadarının afakî veya mitsel tasarımlara dayandığını ortaya koymak da bir sorumluluk gereği olduğunu unutmamalıyız.

Öncelikle Nalbandoğlu’nun Açe’yi nasıl keşfettiğine değineyim kısaca. İkinci Dünya Savaşı’nda İngilizlerin Cava Adası’na çıkışlarından hareketle bölge Müslümanlarının tarihine eğildiği anlaşılıyor. Tabii Cava Adası dendiğinde Hollanda Doğu Hint sömürge yönetimi ve bu yönetimin son dönemdeki en önemli danışmanlarından ve bir İslamolog olan Dr. Snouck Hurgronje’a ulaşmamak mümkün değil. Nalbandoğlu da böyle bir veriyle hareket ederek, nihayetinde “Açe olgusuna” el atıyor. Hurgronje’un bugüne kadar aşılamamış bu iki ciltlik “Açeliler” (The Acehnese) adlı çalışmasındaki Osmanlı Devleti’nin Açe’ye yardımını konu alan bölümlerini kendi düşünce ve görüşleriyle birleştirerek gündeme getiriyor. Bu çerçevede ne gibi yanlış algılamaların, düşüncelerin ve bilgilerin olduğuna değinelim.

İlk olarak, Açe’nin içinde yer aldığı Sumatra Adası, Sunda Adası olarak zikrediliyor ki, böyle bir coğrafi tanımlamayı Endonezyaca ve İngilizce eserlerde mevcut değil. Sumatra ve Cava Adaları’nı birbirinden ayıran su yolu Sunda Boğazı olarak bilinmekle birlikte, Sunda Adaları tabiri mevcut değil. Nalbandoğlu, Açe Darusselam Sultanlığı’nı (ADS) Sunda Adaları Devleti olarak tanıtarak “Sundalılar 386 yıl önce bizden yalnız askeri bir himaye değil, sınai yardım da istiyorlardı” (s. 502) diyor. 1511-1904 yılları arasında siyasi egemenliği sürmüş olan ADS’nın, Sunda Adaları devleti olarak adlandırıldığını bir başka kaynakta görmek mümkün değildir. Bir başka husus, ADS’nın nüfusuyla ilgilidir. Yazar, burada bir kez daha bütün Sunda Adaları Devleti kapsamında ele aldığı Açe’yi “4 milyon Müslümana hükmeden dört bin ada namına yardım isteyen” (s. 503) bir devlet olarak niteler. Bugün Endonezya Cumhuriyeti’nin otuzüç eyaletinden biri olan Açe Eyaleti’nin nüfusu dört milyonu biraz geçkindir... Dolayısıyla, 16. yüzyıl ikinci yarısında ADS’nin nüfusunun milyon olması mümkün değil. Kaldı ki, Sultan Alaaiddin el-Kahhar’ın elçisi Hüseyin vasıtasıyla Konstantinople’a gönderdiği mektubuna cevaben yazılan metinde[1]Malay Takımadaları’nda yaşayan Müslümanların hac yolculuklarında yaşadıkları sıkıntıları dile getirmesi, ADS’nın bu adalar üzerinde siyasi egemenliği olduğundan dolayı değil, Güneydoğu Asya Müslümanlarının maruz kaldıkları sıkıntıları dile getirerek, Osmanlı yönetimininn bölgeye ilgisini çekmeye matuf olduğu şeklinde anlamak gerekir.

Bütün badirelere rağmen, Açe’ye ulaştığı varsayılan iki gemide bulunan askeri uzman ve zanaatkarlar arasında Mimar Sinan’ın çıraklarının da yer aldığı bilgisinde doğruluk payı bulunabilir. Ancak, bu mimarların Sumatra Adası’na çıktıktan sonra “kaleler, kuleler, hükümdara saraylar yaptıkları”, öte yandan “askeri ve sınai heyetin Sumatra Adası’na çıktıktan sonra adada tophaneler ve kılıçhaneler kurdukları” (s. 503) yönündeki anlatıyı kuşkuyla karşılamamızı gerektirecek abartılar içerdiğini düşünüyorum. 

Yazarının taşıdığı kimliğin ötesinde, bu tür anlatıların abartılmasının zaman ve mekânı dikkate alındığında bir anlamda “anlaşılabilir” boyutları olduğunu söyleyebiliriz. Örneğin, benzer abartıları, tsunamiden sonra yazılıp çizilenlerde de gördüğümüzden, elli yıl önce yazılanları pek de yadırgamıyoruz. Kaldı ki, yukarıda belirttiğimiz üzere, Nalbandoğlu’nun Açe’yi gündeme getiren metni, en azından modern dönemde bölgenin hatırlanması babından önemi tartışılmaz. Ancak yadırganması gereken, bu hususları “üstü örtülmesi gereken” unsurlar olarak kabul edip, tarihi hakikatleri çarpıtmayı kendine iş edinmiş birtakım çevrelerin varlığı karşısında sus-pus olmaktır. Kimi kurum yetkililerininin yapıların kapılarına iliştirdikleri plakalarda Osmanlı’nın Açe’ye 19 gemi gönderdiğini her görüşümde ne tür bir tarih bilincine sahip olunduğunu sormaktan kendimi alamadığım gibi, konuya vakıf olan yerli ve yabancılar nezdindede pek hoş olmayan algılar bıraktıklarına kuşku duymuyorum. Bu çerçevede, “Bırak öyle kalsın, yanlış üzerinde inşa edilmiş böylesi güzel bir kimliğimizden zarar çıkmaz” babındaki söylemlerini sadece bu şahısların ahlaki duruşlarında değil, tarihin namusu çerçevesinde değerlendirmek gerekir. Tarihin yeniden inşasında, algı çarpıtmaları kadar, bilgi noksanlığı üzerine konumlanışların pek de yarar getirmediğini zaman içerisinde tanık olmaktayız. Umarız, hatırlanan Açe-Osmanlı ilişkileri mitsel unsurlarından kurtulur da bugüne ve geleceğe dair kalıcı yaklaşımlar ortaya konmasına vesile olur.


[1]7 Numaralı Mühimme Defteri: 975-976 (1567-69), TC Başbakanlık Devlet Arşivleri Genel Müdürlüğü, Osmanlı Arşivi Daire Başkanlığı, Yayın No. 37, Ankara, 1998, s. 124.

Rabu, 29 Agustus 2012

Helsinki ya da az yoğunluklu Açe

Mehmet Özay                                                                                                             16 Ağustos 2012

15 Ağustos tarihi Helsinki Barış Anlaşması'nın yıldönümü. Bunu bir tarafa not edelim unutmamacasına... Açe'nin hangi badirelerden sonra bu safhaya geldiğini görmek ve anlamak için önemli bir tarih ve dönüm noktası. Son birkaç haftadır Arakan'a yoğunlaşan ilginin önemine kuşku yok. Ancak Açe'yi ıskalayanların Arakan'ı anlamalarını beklemenin güç olduğunu da vurgulamak gerekir. Bu nedenledir ki, uzunca bir süredir Güneydoğu Asya'ya geniş perspektifle yaklaşmayan her türlü bakış, kusurlu ve de  hatalıdır diyoruz. Bu bağlamda, bölgenin yeni keşfedilen "zulüm sahrası" Arakan'da ne tür istikrarlı, kalıcı, yapıcı gelişmelerin olacağını hep birlikte tanık olacağız. Ancak şunu unutmayalım... Biz zaten Güneydoğu Asya'da değil miydik? Açe daha mı az kırılgandı Arakan'dan? Açeli daha mı az ızdırap çekmişti merkezi hükümetinden? Öte yandan, niçin Arakan'ı yeni hatırlıyor muşuz gibi yapıyoruz? Hatırlanacak daha başka beldeler var mı Güneydoğu Asya'da? gibi daha pek çok soru cümlesini sıralayabilirim. Elbette karşılaştırmalı bir çalışma yapmak gerekir, ancak bu metin böyle bir olanağa elvermiyor. Yukarıdaki soruları ise, sadece bir hatırlatma babında gündeme getiriyorum, kafa yormak isteyenlere.

Öyle zannedildiği gibi birkaç on yıl değil, yaklaşık 130 yıl süren Açe mücadelesini umursamazlıkla ele alıp, yapılanları  tsunaminin "görece" dar sahasına sıkıştırmak tarihe ihanettir. Açe'yle ilgileniyormuş gibi yapıp, başka işler peşinde koşmaksa olsa olsa kendini kandırmacadır. Şayet Açe Savaşı ve de Barış'ı her yönüyle masaya yatırılmamışsa, bunu Arakan'da ya da bir başka belde de yapılmasını beklemek biraz değil, oldukça zor. Açe ki, bize "çok yakın" duran bir beldeydi, ancak bu yakınlığın doğurduğu ilgi "mitsel" anlayıştan öteye de geçmedi ve geçmiyor.

Bugün Helsinki'yi konuşurken elbette Açe'nin tüm Hint Okyanusu ve Güneydoğu Asya muvacehesinde önemine vurguyu sürekli göz önünde tutmakta fayda var. "Acaba Açe'de ne yaptık, ne yapıyoruz, gelecekte bir şey yapacak mıyız?"

Tsunami elbette önemli bir hadiseydi, bizim dışımızda, insanlığın dışında bir hadise ve Açe'nin kaderi üzerinde son derece belirleyici bir gelişmeydi. Burada, hemen Açelilerin neler yaşadıkları ve bu doğa hadisesinin akabinde neler hissettiklerine dair kısa bir hatırlatmada bulunayım. Yazdık, ancak çabuk unutuyoruz. Açeliler, "tsunami bir şey değil, Rahmet'ten öte. Ondan öncesinde yaşadıklarımızı görseydiniz" dediklerini hiç mi hiç unutmamak lazım... Gelelim Helsinki Anlaşması'na...

Helsinki Anlaşması'nı en azından, birbiriyle çelişir gibi gözükse de, iki bağlamda ele almakta fayda var. Birincisi Açe'yi küresel ölçekte sahneye çıkartan ve kendilerinden gaspedilmiş insanlık onurunu Açelilere yeniden kazandıran bir süreç olması bakımından büyük bir tarihi gelişmedir. İkincisi ise, Açe'nin uzun yıllar verdiği bağımsızlık imkânını ortadan kaldıran bir anlaşmadır.

Özellikle ikinci hususla ilgili şu tespitte bulunalım. Anlaşmaya giden süreçte ortaya konması gereken bir fedakarlık varsa -ki vardı-, bunu Açe Özgürlük Hareketi yapmıştır. Bunun doğruluğunu sınamak için şu soruma cevap verebilirsiniz. Tsunami'den kaç gün sonra Açe dünya gündemine geldi? Merkezi hükümetçe yok sayılmış Açe, yokluğa terk edilmiş Açeliler nasıl 'gecikmeli olarak' hatırlandı? O dönem, yeni başkan'a (SBY) ve kurulan hükümete rağmen, 2003 yılında Megawati'nin ordu yığınağı 2004'te de Açe'yi boğmaya devam ederken, üstüne bir de doğal afetin gelmesi, yıllarca dışardan hiçbir Allah'ın kulunun girmesine izin verilmeyen bu beldedeki moral, sosyal, siyasi ve de mücadele ruhunda yaptığı tahribatı düşünelim.

Temelde bu anlaşma, otuz yıla varan ve binlerce kişinin ölümüyle, bir o kadarının  işkenceye maruz kalmasıyla sınırlı olmayıp, Açe'nin onyıllar içerisinde Cakarta'nın şu ya da bu şekilde gerçekleştirdiği toplumsal ve ekonomik kalkınma hamlelerinden neredeyse hiç nasibini almamasına neden olan bir sürecin sona erişidir. Veya şöyle de okuyabiliriz: Cakarta'da 1998'de sona eren Suharto'nun 'Yeni Düzen' politikasının Açe'de nihayete erişidir 15 Ağustos 2005 ve de 'Yeni Açe'nin hayata geçirilişinin başlangıcı... Anlaşma maddelerine göz atıldığında, aslında Açe'nin orta ve uzun vadede her türlü açılımına kapı araladığı da görülür. Bununla birlikte, bu anlaşma "her şeydir" çıkarımında bulunmanın yanılsatıcı olacağına kuşku yok. Ne demek istiyoruz? Anlaşma metninde de belirtildiği üzere, Açe yönetim yapılanmasını belirleyecek yegâne karar organı Açe Eyalet Parlamentosu işaret ediliyor. Ancak sorun ya da çözüm de biraz burada başlıyor. Açe'de siyasi yönetimi yapılandıracak ve Anlaşma Metni'yle uyumlu yasalar henüz tam anlamıyla çıkarılmış ve hayata geçirilmiş değil henüz.

Geleneksel Açe toplum yapısında siyasi ve de sosyal bir değeri ve önemi olan "Wali Nanggroe" unvanını taşıyan Teungku Malik Mahmud, daha geçen gün, Açe Parlamentosu'nun, LoGa/UUPA (Undang Undang Pemerintah Aceh) adıyla bilinen Açe Yasası'nı bir an önce tamamlanmasını dile getirirken, elbette her günün altın değerinde olduğunu ve gecikmelere Açe'nin tahammülü olmadığını dolaylı olarak vurguluyor. Çünkü söz konusu bu yasa, Açe'nin anlaşma metninde yazılı haklarını gündelik yaşama yansıtacak araç konumunda da ondan. Öyle ki, 2006 yılında o dönem, -ki aralarında sözde İslamcı partilerinde bulunduğu- ulusal partilerin güdümündeki Açe Parlamentosu'nda çıkartılmış olan Açe Yasası (LoGA/UUPA), Barış Anlaşması metniyle çelişen bazı maddeleri de içermektedir. Söz konusu bu maddeler, Açe Valisi ve özellikle de Parlamentosu'nu saf dışı bırakıp, karar mekanizmasını Cakarta'ya endekseleme uğraşının bir sonucudur. Bugün Tgk. Malik Mahmud'un şu anki Parlamento'ya çağrıda bulunuşu işte bu aymazlığı düzeltecek girişimlere kapı aralamak içindir. Öte yandan, Tgk. Malik, bir yandan Açe halkının bu anlaşmanın kıymetini bilmeye davet ederken, öte yandan, merkezi hükümete gönderme yapmaktan da geri kalmıyor.

Öteden beri söyleyegeldiğimiz üzere, Açe nesline tarihi bilinç vermeyen, bu anlamda dilini, kültürünü, dini ve siyasi algısını kuvvetlendirmeyen bir eğitim politikası ne kadar zararlıysa, yeni neslin Helsinki Anlaşması'ndan bihaberliği de o denli kabul edilemez. Bu nedenledir ki, Tgk. Malik niçin bu gelişme yeni nesle aktarılmalı sorusunun ardından cevabını veriyor: "Bu anlaşmanın Açelilerce anlaşılmaması, şartlarının birer birer yerine getirilmemesi bizi 'Lamteh Anlaşması'na geri götürür. Yani Lamteh'de anlaşmaya varılmasına rağmen uygulamaya konulmamış ve sorun yeniden nüksetmiştir."[1] Bir yandan da anlaşma sürecinde yapıcı katkısından ötürü Endonezya Devlet Başkanı Susilo Bambang Yudhoyono'ya (SBY) gönderme yapıyor Tgk. Malik. Aslında bu gönderme, görev süresi 2014'de sona erecek başkanın ardından, yerine bir ultra-Cava milliyetçisinin gelmesi ihtimalinden doğan kaygıdan besleniyor. Öyle ki, zaten metnin yorumlanmasında mevcut sıkıntılar varken, üstüne üstlük bir de bile-isteye "ulusal yasama" bağlamında Helsinki Anlaşması'nı yok sayacak veya saydırılacak girişimler hayra alamet olmayacaktır. Tgk. Malik, ayrıca, otoritelere bir kez daha çağrıda bulunarak, merkezi hükümetin ilgili birimlerini Anlaşma metninin ne kadar uygulandığını incelemeye davet ediyor. Bunun, aynı zamanda, topluma kazandıracağı bir değer de olduğunu vurgulayarak.

Yedinci yılına girmesine rağmen, özellikle genç nesil arasında Anlaşma'ya dair bir bilinç geliş/tiril/e/memiş olmasının farklı boyutları yok değil. Yeni neslin Anlaşma'ya bu türden konumlaşındaki sıkıntı çeşitli kesimlerce dile getiriliyor. Örneğin, Helsinki'de beş kişilik Açe görüşme heyetinde yer alan ve kendisini zaman zaman ziyaret ettiğim kıymetli insan da bu husus üzerinde ısrarla duruyor diyor ki: "Genelde, bu anlaşma barış getirdi ve önemli bir metin. Ancak toplumda içeriğine dair bir bilgi ve bilinç henüz hasıl olmadı." Bu ve benzeri kaygıları pek çok kişiden duymak mümkün. Bunda değişik faktörleri göz önünde bulundurmak gerekir. Tsunami öncesinde merkezi hükümet, "ulus-devletçi" zihniyet kodlarını etnik unsurlar üzerinde, özellikle de Açe etnisitesi üzerine alabildiğine boca etmesi, Açe genç nesilleri üzerinde kimlik krizine ve tarih bilinci yoksunluğuna zaten zemin hazırlıyordu. Buna ilâveten, özellikle, Açe'ye tsunami sonrasında gelip yerleşen ve Açe'ye ve Açelilere önyargılı -her türlüsünden- Cavalı ve dışarlıklıların yeni nesil üzerinde çeşitli toplumsal araçları kullanarak gerçekleştirdikleri kültürel erozyonun rolü unutulamaz. Ve özellikle bu konuda ısrarla Cava kültür havzasında yetişmiş olanlarla ve bu havzaya özgü yapısal unsurlarla iş tutanları da göz ardı etmeyelim.

[1]Lamteh Anlaşması, 1953-65 yıllarındaki Dar'ul Islam/Endonezya İslam Devleti (DI/TII) hareketini sonlandıran; Açe Özerk Yasası olarak da bilinen ve din, eğitim ve kültür alanlarında Açe'ye özerklik veren, ancak hayata geçirilmeyen anlaşma.

http://www.dunyabulteni.net/index.php?aType=haber&ArticleID=223092&q=mehmet+%C3%B6zay

Kamis, 16 Agustus 2012

Arakan’ın Erdem Beyazıt’ı Dahi Yok!


Mehmet Özay                                                                                                               15 Ağustos 2012

1980’lerin ilk yarısı bitmiş... Üniversite yıllarımız... Ankara Bentderesi’nde onbeş katlı Refah Apartmanı’nda kalıyoruz. İkinci ve üçüncü katlar öğrencilere yurt olmuş... Üst katta bir abi var, yaşı elliye yaklaşmış... Afgan cihadına gitmiş... Hikâyelerini dinliyoruz... Savaş sırasında gerçekleşen mucizeleri... Tam o günlerde yanılmıyorsam Erdem Beyazıt’ın Afganistan’a Ağıt’ıyla tanışıyorum... Kasetli dönemin başlarıydı herhalde... Dergilerde de çıkmıştı bu ağıt... Bugünlerde Arakan’ı ‘okumaya çalışırken’ birden fark ettim, dedim ki kendi kendime ‘Arakan o kadar yoksun ki, bir Erdem Beyazıt’ı bile yok, ağıt yakacak.” Ağla Arakan ağla, kaybettiklerine, seni unutanlara, unutturanlara, hatırlamayanlara ağla... Ağla ki, Erdem Beyazıt yok, sana ağıt yaksın... Ağla Afgan dağlarında çığlığını duyacak bir garip Müslüman dahi yok...

Dedim ya, bir süredir Arakan’ı anlamaya çalışıyorum. Ulaştığım metinlere, bölgeyi yakinen bilenleri sorularımla hırpalıyorum. Tam bu sırada Singapur’da bir akademisyenle tanıştım... Harika metinler kaleme almış. Anak bir tanesi çok ilginç... Arakanlı mültecilerin varoluş mücadelesini edebiyat, sanat bağlamında irdeliyor. Saha çalışmasına konu olan araştırması sırasında, Bengaldeş sınırında şu günlerde adı çokça geçen kamplardan bazılarını ziyaret etmekle kalmamış, zulümden köşe kucak kaçarak ormanın bir köşesine ilişmiş annelerle çocuklarla yüzleşmiş.

Öyle ya, mülteci bir yerden bir yere zorunlu göç etmiş kişidir. Ancak göçe neden olan hadiseler, ana yurdundaki yaşam elbette belleğinde derin izler bırakmış, tıpkı yaşadığı işkenceler, zulümler gibi... Belki de böylesi anlarda insan karşı karşıya kalır belleğiyle, hem de tüm açıklığıyla... Arakanlılar da pek de kimseden bulamadıkları duyuşu, okşayışı, hissedişi benliklerini tazeleyerek hayatta kalmaya, diri durmaya çalışıyorlar. Tarafınızdan “Nedir araçları peki?” diye sorulacaktır elbette. Araçları şiirler (tarana), ağıtlar ve de resimler... Bu insanlar her şeyden yoksun oldukları gibi onlarca yıldır bildik anlamda formel eğitimden de yoksunlar. Ancak bu ‘cahil’ olduklarını ortaya koymaz. Hayatı okuma, anlama biçimleri ve yaşamlarını bununla bileme iradesine sahipler. Naf Nehri’nin kuzeyi ve de güneyi düşman olmuşken Arakanlılara, ne diyelim dünyada bir tür ‘Araf’ı maddeden yaşarken nasıl sürer hayat onyıllarca kampta.

Bu şiirler, ağıtlar ve resimler süreklilik arz eden zulme sessiz başkaldırıyı temsil eder aynı zamanda... Topu silahı olmayan bir toplumun, varlık aleminde kaybolmamacasına verdiği mücadelede şiirdir ağıttır onu yegâne ayakta tutan...

İşte bu ağıtlardan biri... Ne kadar mümkündür çevirisi bilemem... Ancak bir nebze olsun belleğimizde yer etsin istedim.

Rohingya Ağıtı:  “Hayatımız ağlayarak geçti”
Günlerimiz geçti göz yaşlarıyla
Burma’da Magh’ların zulmüne maruz kalarak
Ana yurdumuzu terk ettik
Zalim devlet korkusuyla
İlkokul mezunu Magh’lar yönetici olmuş, ellerinde sopalar
Biz se, diplomalı sebze satıcısı
Niçin ölmeli kundaktaki bebeler, yavrular
Evimizi yurdumuzu terk ettik
Zalim devlet korkusuyla...

Bu ağıtta Arakanlıların yaşadıkları temsil etmesi anlamında “zulüm” (dor) kelimesinin sekiz defa tekrarlandığı görülür. Zulüm devletin sivil kanadından, asker kanadından yetmezmiş gibi, aynı ırka mensup Budist Maghların bir başka adıyla Rakhinelerin kıyımıyla da ortaya çıkar. Zulüm ki, her çeşidiyle musallat olmutur Arakanlılara... En temel insani değerlerden sayılan ne sosyal, ne dini ne de ekonomik varlıklarına izin vardır ana vatanlarında.

Bu ve benzeri şiirler yaşananlara bir itirazken, bir yandan da hayata tutunmanın geleceğe umutla bakmanın aracı kılınırlar bellekleri yenileyerek.

Kamp yaşamının belli zaman aralıklarında, özellikle Dolunay’da çadırlarının önünde küçük gruplar halinde biraraya gelen Arakanlılar ağıtlarını yakarken, geleneksel müzik enstrümanları olan juri ve tobla’yı da eksik etmezler... O enstrümanlar ki, ruhun en ince derinlikleriyle irtibatı kuran mucizevi araçlar....

Bir de çizimler var tarih yapan... Anayurtlarında maruz kaldıkları zulmü sergileyen. Dev sanat eserleri değil, zaten bundan da bahsetmiyoruz... Ancak bir kaybolmaya yüz tutmuş bir toplumun kendi tarihini yazışıdır bu resimler. Yemyeşil verimli topraklarda yaşam sürerken baskına, ayrımcılığa maruz kalarak durağan yaşamlarından koparılıp, Pol-potları andıran barınaklara tıkılmaları öykülenir bu resimlerde... Askerlerin ve Rakhinelerin nasıl işkence ettikleri...

Not: Bu yazıya konu olan çalışmasını kullanmama izin verdiği için Farzana’ya teşekkür ediyorum.

http://www.dunyabizim.com/manset/10706/arakanin-bir-erdem-bayaziti-dahi-yok.html