Minggu, 03 Mei 2015

Kesultanan Aceh Dan Turki: Antara Fakta dan Legenda


Perpustakaan Nasional RI: Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Özay, Mehmet

Kesultanan Aceh dan Turki Antara Fakta dan Legenda/Mehmet Özay;—Cet .1—Kuala Lumpur: Hawash Enterprise, 2014.

xiii + 113 hal.
: 14,8 x 21 cm
ISBN
: 9789671297100

Anggota IKAPI

Judul
: Kesultanan Aceh dan Turki, Antara Fakta dan Legenda
II. Özay, Mehmet


Cover: Teuku Ampon Chik Raja Ismail Siddik Attahashi (1910-1945) dengan pegawainya, Sungei Iyu Tamiang. 1933. Terimakasih kepada Teuku Hamid dan keluarga.

Penulis: Mehmet Özay Penerjemah: Afdhal Muchtar Editors: Thayeb Loh Angen
Desain Cover-Layout: Mulyadi -Cetakan 1, October 2014 Copyright @ 2014
by Mehmet Özay All rights reserved.

Hak Cipta Dalam Bahasa Indonesia @ Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT)

Kuala Lumpur, 2014






Pusat Kebudayaan Aceh Dan Turki (PuKAT)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar.................................................................... v

Bab 1

Catatan Perjalanan Penulis di Aceh....................................... 1

Bab 2

Dari Lada Secupak Hingga Utusan Sultan Selim II.............. 12

Bab 3

Ma’had Baitul Maqdis, Kampung Bitai,

dan Keturunan Turki di Banda Aceh.................................... 28

Bab 4

Utusan Sultan Aceh Darussalam ke Turki Tahun 1870-an.... 45

Bab 5

Keturunan Turki di Tamiang................................................. 56

Bab 6

Pengaruh Turki Dalam Peradaban Aceh Sampai Kini........... 61

Kesimpulan.......................................................................... 78

Biografi Penulis.................................................................... 83

Lampiran.............................................................................. 85

Foto....................................................................................... 105





Kata Pengantar

Buku ini tidak mengulas tentang isu-isu politik, juga tidak mengangkat fakta-fakta mengenai gempa dan tsunami yang muncul tiba-tiba dan menyapu habis segala yang ada

di sepanjang wilayah pesisir Aceh pada tanggal 26 Desember 2004. Buku ini juga bukan sebuah kisah nostalgia yang mengagung-agungkan kejayaan masa lalu dalam hubungan antara Aceh dan Ottoman.1 Sebaliknya, buku ini merupakan sebuah upaya, dalam batasan tertentu, untuk meninjau kembali apa yang telah terjadi di masa lalu baik yang telah lama sekali atau yang baru-baru ini serta untuk mentelaah kembali aspek-aspek utama dari hubungan antara kedua negara. Untuk tujuan itu, dalam buku ini saya memuat beberapa catatan pribadi berdasarkan pengalaman saya bertemu dengan beberapa kalangan masyarakat Aceh yang terkait. Dalam interaksi saya dengan mereka, saya menemukan refleksi sejarah “berdasarkan sudut pandang yang paling ganjil dan sangat tidak lazim” seperti yang pernah dikemukakan oleh William R. Roff. Selain itu, berbagai sumber termasuk beberapa Hikayat, dokumen arsip dan karya ilmiah kontemporer dalam bahasa Turki, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia yang saya baca juga telah memberikan banyak andil dalam penulisan buku ini. Demikianpun, saya tidak mengatakan bahwa buku ini merupakan sebuah sejarah lengkap mengenai hubungan antara Aceh dan Ottoman. Sebaliknya, ini akan mengingatkan kita untuk memperhatikan kembali beberapa aspek dari hubungan ini khususnya dalam perspektif upaya politik Aceh yang
1Kata ‘Ottoman’ dan ‘Turki’ dalam teks ini digunakan secara silih berganti. Dari sini, harap diingat bahwa Ottoman tidak hanya mencakup sebuah negara saja, melainkan beberapa negara sepanjang berabad-abad. Sebagai contoh sederhana, perlu saya sebutkan bahwa kemungkinan telah ada kehadiran beberapa unsur Turki pada masa pra maupun paska Ottoman sebagaimana yang dikemukakan dalam beberapa bagian teks yang terkait.



v




konstruktif.

Perhatian utama saya di sini adalah untuk menyajikan sebuah gambaran menyeluruh mengenai sifat hubungan antara kedua negara. Sehubungan dengan hal ini, tidaklah salah jika saya mengatakan bahwa tsunami telah menciptakan sebuah sebab sehingga hubungan zaman lawas antara Aceh dan Ottoman kembali dikenang. Pada saat yang sama, juga tidak salah untuk menanyakan apakah ada diberikan perhatian yang memadai terhadap baik hubungan lama maupun yang relatif baru dengan tujuan untuk mengetahui makna yang sebenarnya di balik hubungan tersebut. Tidak diragukan lagi, siapapun boleh berpendapat bahwa sebagian besar periode modern dianggap sebagai dekade yang hilang atau terputus bagi hubungan antara kedua negara. Dan selama dekade-dekade yang hilang ini kedua negara umumnya masing-masing sibuk mengurusi kericuhan politik negara mereka sendiri, dan tidak diragukan lagi bahwa banyak hal telah berubah. Namun, memang benar bahwa pada saat yang sama tsunami telah membuka sebuah saluran yang berpotensi untuk memulihkan atau menyambung kembali hubungan yang hilang atau terputus ini.
 Buku ini terdiri dari enam bab utama, lampiran-lampiran dan foto-foto. Untuk itu, saya ingin memberikan sedikit penjelasan singkat mengenai bab-bab ini. Bab satu adalah mengenai sejarah dan pengalaman pribadi saya saat berada di Aceh. Bagian ini merupakan catatan permulaan mengenai bagaimana saya mengetahui keberadaan Aceh di usia muda saya. Ini juga mengulas mengenai beragam pengalaman dan pengamatan pribadi saya serta upaya-upaya yang saya lakukan selama kehadiran saya pada pertama kalinya di Aceh setelah tsunami. Selain itu, terkait dengan kehadiran saya setelah tsunami, saya ada membuat karya tulis mengenai Aceh baik yang yang bersifat akademis maupun non-akademis yang pernah terbit melalui

 vi   

berbagai media. Siapapun dapat menegaskan bahwa tulisan-tulisan ini membuktikan dalam aspek dan ruang lingkup mana saya telah terlibat di Aceh.

Bagian lain dari buku ini disusun untuk meninjau kembali berbagai aspek mengenai hubungan antara masyarakat Aceh dan bangsa Turki. Dalam konteks ini, beberapa perkembangan konkret muncul pada masa Kesultanan Aceh Darussalam dan Negara Ottoman. Dan beberapa perkembangan yang terjadi di luar periode itu mungkin akan diulas juga secara ringkas; kesemuanya akan menjadi bahan pertimbangan dalam penulisan buku ini. Selain itu, mungkin akan mengejutkan bagi beberapa kalangan bahwa hubungan ini tidak terbatas pada masa Ottoman saja. Sebaliknya, ada beberapa indikator kecil dalam sejarah yang layak untuk dipertimbangkan meskipun hanya diulas secara ringkas.

Bab Dua adalah rangkuman refleksi mengenai kehadiran Turki Utsmani di Aceh. Pada bagian ini, saya menyajikan beberapa fakta konkret dan sejarah lisan untuk melacak hubungan Turki sampai batas tertentu. Oleh karena itu, ini masih menjadi pekerjaan yang belum selesai dalam mengurai dan mengungkap segala pengalaman dan temuan saya di Aceh serta hasil bacaan dari berbagai sumber selama proses penulisan buku ini. Saya mendapat informasi mengenai beberapa orang yang mengaku memiliki hubungan dengan Turki melalui pernikahan dengan keturunan Turki.

Bab Tiga mengulas tentang kisah ‘meriam lada secupak’ sebagai fenomena yang muncul setelah dimulainya upaya untuk membangun hubungan dengan Turki Utsmani melalui kebijakan yang dibuat oleh Sultan Al-Qahhar dengan penuh semangat pada tahun 1560-an dalam bentuk pengiriman utusan ke Konstantinopel. Ternyata, ini menjadi upaya nyata sebagai pencetus hubungan antara Aceh dan Ottoman. Meskipun besar

  vii

kemungkinan bahwa hubungan antara kedua negara telah berlangsung beberapa abad lebih awal bahkan sebelum terjadi kisah meriam lada secupak ini, kunjungan ini telah mengukir sebuah catatan sejarah dan dampaknya masih tercermin sampai hari ini. Dan peristiwa ini telah membentuk sebuah persepsi mengenai Turki di kalangan masyarakat Aceh. Di sisi lain, saya ingin mengemukakan penafsiran saya bahwa upaya yang dilakukan oleh Sultan Aceh adalah sebuah tindakan konstruktif dalam membangun hubungan antara kekuasaan pusat dan pinggiran. Jika hubungan historis ini ditelusuri akan terbukti bahwa ada keberlanjutan dari hubungan yang terbangun ini. Sesungguhnya, penafsiran ini didasarkan pada analisa yang tersurat bersumber dari kesefahaman umum di antara para cendikiawan Islam. Fakta bahwa Sultan Aceh memiliki akses ke pusat Kekhalifahan bukanlah suatu upaya untuk meminta beberapa peralatan militer. Meskipun memang benar bahwa elit politik Aceh menuntut semacam ‘kontribusi militer’ dari Dinasti Utsmani, itu hanyalah cerminan dari kebijakan besar Kesultanan. Dalam hal ini, saya tidak melibatkan semua kesepahaman yang bersifat mitologis dalam BAB ini, namun saya mencoba untuk membahas tentang kemungkinan rekonstruksi paradigma politik Aceh.

Bab Empat menelaah mengenai upaya untuk penguatan kembali hubungan antara kedua negara (Aceh dan Ottoman) sehubungan dengan invasi Belanda. Diketahui bahwa penguasa Belanda mengemukakan hasrat mereka untuk memasukkan tanah Aceh kedalam kedaulatan politik mereka sejak dekade-dekade awal abad kesembilan belas. Ini menjadi faktor pendorong bagi elit penguasa Aceh untuk menghidupkan kembali hubungan lama dengan Dinasti Utsmani dan berupaya untuk bergabung atau berbagi hak teritorial dengan supremasi Ottoman. Upaya Aceh dengan mengirim utusan ke Konstantinopel melalui

 viii

serangkaian kunjungan mendapat sorotan bukan hanya dari beberapa media di Konstantinopel tetapi juga menyebabkan Perang Belanda menjadi isu politik internasional. Apakah upaya-upaya ini melahirkan kontribusi nyata atau tidak, kenyataannya adalah bahwa upaya yang dilakukan oleh Aceh layak dianggap sebagai bagian dari proses pembangunan serikat Islam baru.

Bab Lima didasarkan pada cerita lisan yang dicatatkan oleh beberapa keturunan ‘Raja’ di Tamiang. Dan anggota sepuh (tertua) dari keluarga ini mendukung catatan-catatan mereka dengan beberapa dokumen otentik. Setelah saya menerima sepucuk surat dari mereka, saya meluangkan waktu untuk mengunjungi keluarga ini yang tinggal di Medan. Ini hanyalah kisah pembuka mengenai isu ini sehingga beberapa upaya harus dilakukan dan lebih banyak waktu harus dicurahkan untuk mengungkapkannya.


Bab enam mengupas secara ringkas mengenai makna kata Rum/Rumi/Turkoman sebagai konsep yang ditemukan dalam berbagai naskah (manuskrip) lokal, catatan para pelaku ekspedisi dan sumber-sumber akademik kontemporer. Meskipun citra Disnasi Utsmani sangat dihargai, ada beberapa referensi yang menyebutkan bahwa barangkali ada beberapa unsur Turki yang bermigrasi dan menetap di beberapa tempat di sekitar Samudra Hindia. Dan hal ini saja telah menjadi isu yang sangat menarik untuk diteliti mengenai kehadiran Turki baik yang datang dari anak benua India maupun dari suatu tempat di negeri-negeri


   ix

Arab. Kemudian, bab ini mempertimbangkan beberapa aspek mengenai hubungan antara Ottoman dan masyarakat Aceh.

Pada titik ini, menjadi suatu keharusan untuk mengingatkan para pembaca bahwa kehadiran Turki (atau unsur-unsur yang berkaitan dengan Turki) melalui hubungan politik, budaya dan agama yang terbangun sepanjang perjalanan sejarah tidak hanya terbatas untuk wilayah Aceh saja di kawasan Asia Tenggara. Oleh karena itu, tidak ada keraguan bahwa interaksi dan hubungan antara Aceh dan Turki sepanjang sejarah merupakan bagian dari kehadiran Turki di beberapa wilayah di dunia. Yang sering diingat oleh kebanyakan rakyat Aceh terkait dengan kehadiran Turki adalah mengenai ‘meriam lada secupak’. Sementara itu, di sini perlu juga untuk mempertanyakan “apa yang diketahui oleh masyarakat Turki tentang Aceh?”

Hubungan antara perwakilan dunia Islam wilayah ‘Timur’ (Kesultanan Aceh Darussalam) dan perwakilan dunia Islam wilayah ‘Barat’ (Negara Ottoman) tidak dapat dipandang hanya sebatas hubungan antara daerah kekuasaan dengan negara bawahan, meskipun faktanya bahwa seperti itulah pemahaman yang terbentuk di banyak kalangan termasuk di antara para akademisi.

Dalam kata lain, upaya yang dilakukan oleh para sultan Aceh tidak boleh dikategorikan sebagai permintaan negara bawahan kepada negara atasan. Sebaliknya, upaya terus menerus yang dilakukan sultan Aceh harus dianggap sebagai suatu arah baru untuk membangun hubungan antara pusat Islam Barat dan Timur; katakanlah antara pusat (Negara Ottoman) dan pinggiran (Kesultanan Aceh Darussalam). Tidak diragukan lagi bahwa hubungan-hubungan ini merupakan contoh nyata di antara model hubungan yang diterapkan oleh komunitas Muslim Asia Tenggara yang mencari jalur penghubung dengan dunia Islam di luar perbatasannya yang diistilahkan dengan “ecunemism


x    Mehmet Özay

(persatuan dunia Islam)” oleh Michael Laffan.2

Banyak kalangan berpandangan bahwa hubungan antara Turki dan Aceh terjadi karena elit politik Aceh meminta bantuan militer dan rekan Turkinya menanggapi dengan mengirimkan beberapa ahli dan peralatan militer termasuk ‘meriam’. Dalam pertimbangan ini, saya dengan keras menekankan bahwa penyederhanaan semacam ini hanya membawa kita pada pemahaman yang dangkal mengenai persoalan sebenarnya. Karena alasan ini pula, hubungan antara kedua negara harus ditinjau dan dievaluasi kembali dengan menggunakan perspektif baru berkaitan dengan paradigma politik Aceh yang dikembangkan oleh para elit politiknya. Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah sebuah tantangan besar karena persepsi seperti ini mengenai hubungan antara kedua negara telah terbangun bukan hanya di kalangan masyarakat Turki dan Aceh, tetapi juga kalangan akademisi secara umum.

Para elit politik Kesultanan Aceh Darussalam mengalihkan perhatian mereka ke Konstantinopel tak lama setelah Kesultanan Aceh Darussalam terbentuk sebagai sebuah negara berdaulat dan secara bertahap berkembang seiring perjalanan waktu. Alasan kebijakan para elit politik Aceh ini didasarkan pada persepsi bahwa Kepala Negara Ottoman dipandang sebagai pusat tertinggi otoritas keagamaan, yakni Khalifah. Dalam terminologi politik-keagamaan, Khalifah melambangkan pusat kedaulatan Islam. Refleksi upaya ini diketahui melalui kemunculan pertama utusan Aceh di Konstantinopel pada tahun 1560-an, meskipun mungkin telah terjadi beberapa kontak awal melalui bupati Mekkah, Madinah dan Kairo yang berada di bawah kedaulatan Negara Ottoman. Tidak mengherankan beberapa peneliti seperti Arun Gupta Das berpendapat bahwa telah terjadi beberapa
2Michael Francis Laffan. (2003). Islamic Nationhood and Colonial Indonesia: The Umma Below the Winds, London: Routledge-Curzon, hal. 3.


xi




kontak awal antara Aceh dan Ottoman3 melalui Gubernur Mesir. Dan tidak ada keraguan bahwa saluran yang disebutkan di atas yakni Mekkah, Madinah dan Kairo juga berfungsi dalam abad-abad berikutnya, ketika elit politik Aceh berusaha untuk mencapai Konstantinopel pada tahun 1851, 1868 dan 1872 untuk memperbaharui hubungan lama dan mencari perlindungan sebagai negara bawahan selama pemerintahan Sultan Ibrahim Mansur Shah dan Sultan Mahmud Shah menjelang pecahnya Perang Belanda.4

Meskipun delegasi Aceh tiba di Konstantinopel pada paruh kedua abad ke-16, mereka tidak langsung mendapat pengakuan dari penguasa Ottoman, sehingga mereka terpaksa memperkenalkan diri terlebih dahulu dengan beberapa negara Islam Timur lainnya.5Dari semua masyarakat Pinggiran Timur Dunia Islam,6Kesultanan Aceh dengan inisiatifnya ini muncul sebagai sosok atau aktor yang paling konstruktif dalam hal membangun hubungan internasional sejak abad ke-16 sampai akhir dekade abad ke-19. Ini mungkin dipandang sebagai titik awal yang terpenting dari keseluruhan cerita.

Di luar hubungan-hubungan yang dilakukan melalui jalur resmi, kemungkinan ada beberapa unsur Turki yang lebih awal terlibat di Aceh, bahkan sebelum terjalin hubungan dengan Dinasti Utsmani. Dalam konteks ini, mungkin ada beberapa macam upaya individu yang diprakarsai oleh beberapa orang atau
3Arun Dasgupta. (1962). Acheh in Indonesian Trade and Politics: 1600-1641, hal. 45-6; A. H. Johns, “Malay Sufism”, Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society”, Vol.

XXX, Part 2, No. 178, August, 1957, hal. 9; Uka Tjandrasasmita. (2001). “The Indonesian

Harbour Cities and the Coming of the Portuguese”, Indonesia-Portugal: Five Hundred Years ofHistorical Relationship, Lizbon: CEPESA, hal. 59-60.

4BOA–Başbakanlık Osmanlı Arşivi (Ottoman Archives), YPRK.EŞA.28/66, 1315.5.13; Y.A.HUS, 1316.1.1, İstanbul.

5Snouck Hurgronje. (1906). The Acehnese, Tr.: A.W. S. O’Sullivan, Vol. I, E. J. Brill, Leiden, hal. 208-9.
6Michael Francis Laffan. (2003). Islamic Nationhood and Colonial Indonesia: The Umma Belowthe Winds, London: Routledge-Curzon, hal. 9.


xii   

kelompok Turki baik yang berasal dari daratan Turki Utsmani maupun yang berasal dari kawasan lain seperti pelabuhan-pelabuhan Persia dan India yang datang ke Aceh sebagai tentara, pengrajin, ulama, pedagang dan lain sebagainya. Tapi fakta yang berkaitan dengan hubungan masa lalu tetap hidup dan terpelihara hingga saat ini di kalangan masyarakat Aceh dalam batas-batas tertentu atau lebih luas. Adalah tugas kita untuk menurunkan ingatan ini kepada generasi muda dengan berbagi pengetahuan dan pengalaman kita. Karena alasan ini, buku ini adalah produk dari keprihatinan ini.

Di sini saya ingin mengucapkan banyak terima kasih pertama-tama kepada Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Aceh untuk publikasi karya ini. Selama proses penulisan buku ini, saya dan kolega-kolega saya dari PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh Dan Turki) telah menerima kerjasama yang besar dalam mewujudkan pekerjaan ini menjadi sebuah karya yang berhasil diproses dalam waktu yang sangat singkat. Trimakasih juga kepada Saudara Afdhal Muchtar yang memberikan sumbangan besar dalam menterjemahkan tulisan ini ke dalam teks Bahasa Indonesia. Kemudian tidak lupa saya bersyukur atas bantuan Saudara Thayeb Loh Ängen yang merupakan personil kunci dari keseluruhan proses ini. Tanpa Beliau buku ini tentu tidak berada pada tahap seperti ini
 Ucapan terimakasih juga saya persembahkan kepada Dr. Kamal Arif dan Coşkun Aral yang telah menyumbangkan koleksi foto-foto pribadi mereka demi menyempurnakan kandungan buku ini.

Banda Aceh

Oktober 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar